Catatan Mahasiswa Luarbiasa

Aku, yang sejak kecil bahkan tidak berani bermimpi.

Aku, yang sejak SD bahkan tidak berani berangan untuk melanjutkan ke SMP, apalagi SMA. 

Aku, yang sejak berusia 9 tahun bahkan tidak merasakan lagi kehangatan sebuah keluarga.

Aku, yang sejak berusia 10 tahun bahkan harus terpisah dari seseorang yang telah melahirkanku.

Aku, yang sejak berusia 12 tahun bahkan harus menjalani kerasnya kehidupan ini sendirian.

Aku, yang sejak SD-SMP hanya mengandalkan beasiswa untuk bisa sekolah.

Aku, yang sama sekali tidak tahu harus kemana setelah lulus SMA.

Aku, yang berangkat ke Bogor hanya bermodal niat, keberanian dan semangat.

Aku, yang penuh dengan segala keterbatasan.

Aku, Hevi Metalika Aprilia. Pemilik nama aneh yang selalu ditertawakan setiap kali memperkenalkan diri dalam sebuah forum baru. Continue reading “Catatan Mahasiswa Luarbiasa”

Advertisements

Pintu Surgaku: Ngambek!

Karena apapun bentuknya, menuntut memang selalu melelahkan. Maka banyak-banyaklah memberi.

Tak ada hubungan yang luput dari pertengkaran. Seperti halnya pertengkaran antara adik dan kakak, anak dan orangtua, sesama teman, pun antara suami dan istri, seperti yang aku alami kali ini.

Semenjak bekerja, tentu aku punya kesibukan baru, dan hal ini ternyata berdampak besar pada  kewajibanku sebagai ibu rumah tangga. Rasa lelah seringkali aku jadikan alasan untuk menunda pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci, memasak, hingga menyiapkan kebutuhan suamiku. Ditambah kondisiku yang memang sedang hamil, rasa lelah yang dirasa menjadi berlipat ganda. Continue reading “Pintu Surgaku: Ngambek!”

Pintu Surgaku: Tahun Pertama

Ujian pertama. Hanya kepada Allah saja aku mengeluhkan segalanya.

Setiap rumah tangga punya senyum dan tangisnya masing-masing, bukan? Ada yang punya masalah ekonomi, komunikasi, kesehatan, keharmonisan, dilema istri bekerja atau di rumah, perbedaan karakter antara suami istri, buah hati yang begitu dinanti tapi tak kunjung hadir, campur tangan orangtua maupun mertua dalam kehidupan rumah tangga, bahkan bisik bisik tetangga yang entah membahas apa saja tentang urusan kita. Semuanya punya ujiannya masing-masing.

Terkadang kita mengenal atau menjumpai sebuah keluarga yang terlihat sangat harmonis. Apalagi di era digital ini, banyak kita jumpai di sosial media kenalan-kenalan kita yang memposting kehidupan rumah tangganya yang nampak bahagia banget, keren parah, bahkan hidupnya seolah gak ada masalah sama sekali. Padahal itu bukan berarti mereka gak punya masalah, bukan? Bisa jadi mereka pandai mengatasi atau hanya pandai menyembunyikan. Continue reading “Pintu Surgaku: Tahun Pertama”

Pintu Surgaku: The Begining

“Karena yang paling aku inginkan adalah kebersamaan denganmu tak pernah berakhir”

Banyak perempuan yang menjadikan pernikahan sebagai life goalnya. Membayangkan hidupnya akan sangat bahagia, happily ever after setelah menikah. Memiliki pasangan yang ideal sesuai kriteria yang diharapkan, kehidupan yang romantis, sedih ada yang menghibur, tidur ada yang nemenin, makan ada yang nyiapin. Manusiawi kok, sama, aku pun dulu pernah berpikir seperti itu.

Sejak awal, suamiku tidak pernah mengucapkan janji apapun seperti “Aku akan selalu membuatmu bahagia”, atau “Aku akan menjadi suami yang baik”, ataupun “Aku akan mencintaimu selamanya”. Tidak pernah sama sekali. Tapi dia membuatku bersyukur setiap hari. Bersyukur karena membuatku tertawa atas candaan romantisnya. Bersyukur karena sering berhias dan terlihat tampan di rumah. Bersyukur atas kesabarannya menerima setiap kurangku. Continue reading “Pintu Surgaku: The Begining”

Bersabar dalam Penantian (Final Ep.)

“Yang dinanti”

Bagiku, ini adalah skenario terindah dari Allah. Dipertemukan kembali dengannya setelah 11 tahun adalah sebuah keajaiban yang sangat aku syukuri. Sebelumnya, Allah menguji dengan hadirnya orang lain dalam kehidupanku. Berkali-kali membuatku patah hati, hanya untuk aku jadikan ujian, karena Allah tidak ingin aku berjodoh dengan orang yang salah. Yang aku yakini, selama ini Allah membuat kami terpisah jarak dan waktu agar kami saling memperbaiki diri. Hingga kami sama sama siap untuk menghadapi rencana terindah dari-Nya.

Dan pada hari dimana dia mengucap akad, aku mengerti bahwa dialah yang selama ini aku nanti. Yang mudah-mudahan menjadi jodoh terbaik yg telah disiapkan Allah untukku. Continue reading “Bersabar dalam Penantian (Final Ep.)”

Bersabar dalam Penantian (Ep. 3)

Tentang pilihan Allah

Membuat pilihan sendiri tidak selalu baik, bukan? Berapa banyak orang yang menyesal karena salah mengambil keputusan dalam memilih? Mangkanya, untuk hal-hal tertentu, Allah tidak memberi kita kesempatan untuk memilih. Dan jika Allah tidak memberikan kesempatan untuk memilih, artinya Allah yang bertanggung jawab langsung. Allah yang memilihkannya. Allah yang menjaminnya.

Aku tak ingin lagi pusing memikirkan perkara jodoh. Meskipun banyak yang mempertanyakan maupun menggunjing karena sebagian besar teman-temanku sudah menikah. Aku pun tak pernah lagi berdoa untuk segera dipertemukan dengan jodohku. Aku tak ingin seolah memaksa Allah, aku ingin menyerahkan sepenuhnya kepada-Nya. Aku yakin, Dia yang paling tau kapan waktu yang tepat untukku. Continue reading “Bersabar dalam Penantian (Ep. 3)”

Bersabar dalam Penantian (Ep. 2)

“Ikhlaskan, biarkan Allah yang mengatur jalan ceritanya.”

Dua pihak yang merencanakan pernikahan sangat mungkin mengalami kegagalan. Jangankan yang baru merencanakan, yang sudah menyebar undangan, sudah menjelang H-1, atau bahkan menjelang sekian detik akad nikah juga bisa gagal. Tidak perlu penjelasan panjang lebar, bukan? It’s so simple, berarti dia bukan jodohmu. Bukan yang terbaik yang dipilihkan Allah untukmu. Seerat apapun mempertahankan, sekuat apapun mengusahakan, kalau Allah berkata “Dia bukan jodohmu!”, apa yang bisa kamu lakukan?

Jodoh, mati, rezeki, semua sudah ditentukan Allah jauh sebelum kita dilahirkan. Ikhlaskan, dan biarkan Allah yang mengatur jalan ceritanya. Percayalah, akan ada ganti yang lebih baik untuk setiap yang kita tinggalkan karena-Nya. Continue reading “Bersabar dalam Penantian (Ep. 2)”

Bersabar dalam Penantian (Ep. 1)

“Cara terbaik untuk menghadapi ketidakpastian adalah dengan memastikannya.”  — Ketidakpastian, Nazrul Anwar

Hujan deras mengguyur jalan tol Jakarta – Cikampek. Setiap percikannya terasa menghantam wajahku yang tengah memanas karena luapan air mata. Lima puluh menit telah berlalu sejak aku duduk di kursi penumpang bus malam antar provinsi ini.

Begitu mendadak, aku memutuskan untuk meninggalkan Jakarta menuju Surabaya. Cuti kantor pun aku ajukan hanya melalui telepon singkat, untungnya general manager tempatku bekerja adalah teman baikku saat kuliah sehingga dia bisa mengerti kondisiku. Barang bawaanku hanya sebuah koper kecil yang muat 5 potong gamis beserta jilbabnya dan sebuah tas ransel berisi laptop. Continue reading “Bersabar dalam Penantian (Ep. 1)”

Dilema: Karir Atau Keluarga?

Empat tahun lebih aku menjalani pernikahanku dengan Mas Fahri. Dan jujur saja aku mulai jenuh menjadi ibu rumah tangga yang hanya berkutat di rumah. Aku rindu masa-masa kuliah dimana aku bebas beraktivitas, aku rindu aktivitas yang padat, aku rindu mengerjakan proyek-proyek bersama rekan kerjaku. Ah, pokoknya aku rindu aktivitas di luar rumah.

Mas Fahri dulunya adalah seniorku di kampus. Semenjak kelulusan tahun 2010, aku tidak pernah lagi mendengar kabar tentangnya. Dua bulan setelah lulus, aku mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri kreatif di Surabaya. Aku pun memutuskan untuk hijrah dari Jawa Barat ke Jawa Timur, sedangkan Mas Fahri setahuku saat itu sudah bekerja di Jakarta.

Continue reading “Dilema: Karir Atau Keluarga?”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website at WordPress.com
Get started