Bersabar dalam Penantian (Ep. 3)

Tentang pilihan Allah

Membuat pilihan sendiri tidak selalu baik, bukan? Berapa banyak orang yang menyesal karena salah mengambil keputusan dalam memilih? Mangkanya, untuk hal-hal tertentu, Allah tidak memberi kita kesempatan untuk memilih. Dan jika Allah tidak memberikan kesempatan untuk memilih, artinya Allah yang bertanggung jawab langsung. Allah yang memilihkannya. Allah yang menjaminnya.

Aku tak ingin lagi pusing memikirkan perkara jodoh. Meskipun banyak yang mempertanyakan maupun menggunjing karena sebagian besar teman-temanku sudah menikah. Aku pun tak pernah lagi berdoa untuk segera dipertemukan dengan jodohku. Aku tak ingin seolah memaksa Allah, aku ingin menyerahkan sepenuhnya kepada-Nya. Aku yakin, Dia yang paling tau kapan waktu yang tepat untukku.

Banyak yang menganggap aku pilih-pilih soal jodoh, karena semenjak batalnya rencana pernikahanku dulu, sudah ada 3 orang laki-laki yang datang melamar tapi aku menolaknya.

Setiap orang berhak menentukan kriteria, bukan? Lagipula selama kriteria itu baik dan berhubungan dengan kebaikan agama, menurutku sah-sah saja. Aku sendiri menentukan 3 jenis kriteria jodoh, pertama yaitu kriteria yang menjadi keharusan, artinya kriteria ini harus ada pada calon pasangan, misalnya aku ingin calon suamiku terbiasa sholat berjamaah di Masjid. Ke dua, kriteria yang bisa ditoleransi, artinya kriteria ini tidak wajib ada pada calon pasangan, hanya sebagai bahan pertimbangan saja, misalnya pekerjaan, fisik, dan latar belakang keluarga. Kemudian yang ke tiga yaitu kriteria yang tidak bisa ditoleransi, artinya aku akan langsung menolak tanpa pertimbangan jika ada salah satu saja dari kriteria ini pada laki-laki yang datang meminangku. Untuk jenis kriteria ke tiga ini misalnya perokok, pemabuk, sering bersikap kasar terhadap wanita, maupun hal-hal lain yang menurutku tidak bisa ditoleransi terkait keimanan, dan aku memang harus tegas terhadap hal ini. Nah, kebetulan 3 orang laki-laki yang aku tolak itu termasuk dalam daftar kriteria yang tidak bisa ditoleransi.

Sudah hampir dua bulan aku tinggal di rumah, dan masih belum punya keinginan untuk kembali ke Jakarta. Entahlah, aku juga tidak tau mengapa, aku hanya menuruti hatiku yang masih ingin tinggal. Mengenai pekerjaanku di Jakarta sudah aku bicarakan dengan general managernya, sementara ini aku kerjakan dari rumah by email.

Aku mulai menyusun beberapa kegiatan yang ingin aku lakukan selama di rumah, aku juga membuat daftar nama teman-teman SD, SMP dan SMA yang ingin aku kunjungi untuk silaturahmi. Aku ingin memanfaatkan waktuku sebaik-baiknya selama di kampung halaman.

Saat mengunjungi rumah salah satu teman SMP, aku mengusulkan untuk mengadakan reuni. Entah kenapa tiba-tiba ingin mengusulkan reuni, mungkin karena aku juga sudah terlalu rindu ingin berkumpul bersama teman-temanku dulu. Kalau dihitung-hitung sudah 10 tahun lebih tidak bertemu dengan mereka. Kami pun mulai menghubungi beberapa teman, juga membuat group-group komunikasi media sosial. Alhamdulillah ada sekitar 30 orang yang bersedia bergabung dalam rencana dadakan ini.

Sebagian besar teman-teman yang hadir rupanya sudah berumah tangga. Ada beberapa yang membawa pasangannya, bahkan membawa buah hati mereka. Dalam reuni itu, aku bertemu dengan seseorang yang entah kenapa saat pertama kali melihatnya membuat jantungku berdetak tidak karuan. Bukan, ini bukan seperti ungkapan klise “Cinta pada pandangan pertama”. Sungguh bukan itu. Tapi hal ini karena seseorang itu adalah Razzan.

Razzan adalah cinta monyetku semasa SMP. Dulu kami sering dibully dan dijodoh-jodohkan oleh teman-teman, hal itu membuat kami sering salah tingkah dan saling menjauh saat berpapasan di koridor sekolah. Razzan yang tiba-tiba menghilang saat upacara kelulusan. Razzan yang tidak pernah lagi aku dengar kabarnya sejak saat itu.

Ya Ampun, itu kan zaman SMP, zaman masih ingusan, zaman dimana usia masih 14 tahun. Bagaimana mungkin hal itu membuat jantungku berdetak tidak karuan seperti ini? di saat usiaku 25 tahun.

Aku berusaha menundukkan pandangan sebisaku. Berusaha tidak terlibat percakapan dengan Razzan. Namun tiba-tiba dia menghampiriku, bertanya kabarku.

“Miranda, apa kabar? Denger-denger kamu sudah menikah ya? Kok aku gak dapat undangan?” Dia berbicara sangat santai, dengan senyum yang MasyaAllah membuatku semakin deg-deg-an.

“Enggak kok, aku belum menikah. Kabarku baik, Alhamdulillah.” Aku berusaha menjawab setenang mungkin.

“Loh? Serius? Masa sih? Tapi beneran loh waktu itu aku denger kabar katanya kamu sudah menikah dengan teman kuliahmu.” Dari raut wajahnya sepertinya dia benar-benar tidak tahu kalau aku belum menikah.

“Mungkin cuma gosip.” Jawabku singkat. Kemudian aku yang lanjut bertanya, “Kamu sendiri apa kabar, Raz? Kerja dimana? Lama banget gak denger kabar kamu. Kamu banyak berubah ya?”

Ya, Razzan memang benar-benar berubah. Dulu dia berbadan kecil dan pendek. Tingginya hanya sekitar bahu hingga telingaku. Tapi kini dia berbadan kekar, tingginya mungkin sekitar 180 cm.

“Alhamdulillah aku juga baik. Iya sih ya, banyak yang bilang aku sangat berubah secara fisik. Kesibukanku sekarang jadi pengajar ilmu bela diri.” Jawabnya sambal nyengir.

Teman-teman lain yang melihat kami sedang mengobrol, langsung heboh meneriaki­, mengingatkanku pada masa-masa 11 tahun yang lalu. Kami hanya tertawa saja.

Dua hari setelah reuni, Razzan menghubungiku lewat salah satu akun media sosialnya. Dia meminta nomor handphoneku. Tak lama setelah aku memberikan nomer handphone, Razzan meneleponku.

“Assalamualaikum, dengan Miranda?”

Deg! Itu suara Razzan. Aku berusaha setenang mungkin menjawab, “Waalaikumsalam Warahmatullah, iya benar.”

“Hai Mir, serius nih aku mau nanya, kamu beneran belum menikah kan?”

Aku cukup kaget mendengar pertanyaannya. “Iyalah beneran, masa boongan.”

“Aku boleh main ke rumah kamu?”

“Hah? Mau ngapain?” Aku semakin kaget.

“Ya pengen main saja hehe”. Dia menjawab dengan santai dan malah tertawa.

Keesokan harinya Razzan benar-benar datang ke rumah. Setelah aku persilahkan masuk, ternyata dia bilang bukan ingin menemuiku, melainkan orangtuaku. Hal itu membuatku lebih bingung, kemudian aku berpikir mungkin dia memang ada perlu dengan Ayah. Aku pun memanggil Ayah, mereka bertemu di ruang depan. Karena penasaran, aku berusaha menguping dari ruang tengah.

“Pak, perkenalkan saya Razzan. Saya dulu teman SMP Miranda. Saya datang ke sini bermaksud ingin melamar Miranda. Jika Bapak berkenan, besok saya akan datang lagi bersama orantua dan keluarga saya.”

MasyaAllah Razzan, dia benar-benar punya bakat membuat orang terkena serangan jantung. Jantungku berdetak sangat kencang hingga tubuhku terasa lemas.

Tak ada yang menyangka, reuni dadakan yang aku usulkan itu rupanya menjadi pembuka babak baru dalam hidupku. Satu hari yang mengubah masa depanku. Dan aku yakin, ini adalah bagian dari pilihan yang telah dipersiapkan Allah untukku.

Bersambung……

One thought on “Bersabar dalam Penantian (Ep. 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s