Pintu Surgaku: The Begining

“Karena yang paling aku inginkan adalah kebersamaan denganmu tak pernah berakhir”

Banyak perempuan yang menjadikan pernikahan sebagai life goalnya. Membayangkan hidupnya akan sangat bahagia, happily ever after setelah menikah. Memiliki pasangan yang ideal sesuai kriteria yang diharapkan, kehidupan yang romantis, sedih ada yang menghibur, tidur ada yang nemenin, makan ada yang nyiapin. Manusiawi kok, sama, aku pun dulu pernah berpikir seperti itu.

Sejak awal, suamiku tidak pernah mengucapkan janji apapun seperti “Aku akan selalu membuatmu bahagia”, atau “Aku akan menjadi suami yang baik”, ataupun “Aku akan mencintaimu selamanya”. Tidak pernah sama sekali. Tapi dia membuatku bersyukur setiap hari. Bersyukur karena membuatku tertawa atas candaan romantisnya. Bersyukur karena sering berhias dan terlihat tampan di rumah. Bersyukur atas kesabarannya menerima setiap kurangku.

Alhamdulillah, kini aku telah menikah. Telah resmi menjadi istri dari seorang Razzan. Razzan yang baru bertemu lagi setelah 11 tahun, baru mencoba mengenal dalam waktu kurang dari satu bulan, yang bahkan namanya tidak pernah terpikir olehku, ternyata hari ini sudah resmi menjadi suamiku. Ah, Allah memang Pembuat skenario terbaik dan terindah. (Baca Serial ‘Bersabar dalam Penantian’)

Sebagai pasangan baru dengan latar belakang kami dari keluarga menengah ke bawah, segala sesuatunya kami siapkan secara mandiri. Suamiku bekerja jauh di luar kota. Selama ini pun ternyata ia menyewa kamar kost, rumahnya dibiarkan kosong tak berpenghuni. Awalnya dia memintaku untuk menempati rumahnya. Ia pun sudah mempersiapkan renovasi sebelumnya. By the way, suamiku sudah tidak punya orang tua, keduanya meninggal sejak ia berusia belasan tahun.

“Sayang, gakpapa ya jauhan dulu. Aku akan usahakan selalu pulang seminggu sekali.”

Berkali-kali suamiku berusaha meyakinkanku. Aku tahu bukan karena suamiku tak mampu, ia hanya takut tidak bisa menyediakan tempat tinggal yang layak untukku dirantau. Namun berkali kali pula aku menolaknya.

“Aku gak mau jauh dari kamu. Bagiku, kamu adalah pintu surgaku. Rugi sekali jika tinggal menjauh, sedang aku punya pintu surga tepat di depan mataku.”

Ya, bagiku, suami adalah pintu surga. Dan aku selalu ingin berada disampingnya. Meraup sebanyak-banyaknya pahala. Akhirnya, kami memutuskan untuk merantau berdua.

Hidup di kota besar tentunya memerlukan biaya yang besar pula. Harga sewa kamar kost untuk pasutri ternyata cukup tinggi. Kami menyewa kamar kost berukuran 5×5 meter dengan harga 750.000 per bulan. Fasilitasnya hanya kamar mandi dalam saja. Selebihnya hanya ruangan kosong. Kami tidur menggunakan kasur tipis yang ketebalannya sekitar 5 centimeter. Dalam kondisi hamil, tidur di atas kasur dengan ukuran segitu rasanya luarbiasa banget. Nikmat sekali di punggung.

Lho? Kok tiba-tiba hamil? Iya, Alhamdulillah dikasihnya cepet sama Allah. Hanya dalam waktu dua minggu saja.

Dalam keterbatasan yang ada, kami tetap bersyukur. Bisajadi banyak yang berada pada kondisi di bawah kami, tidur di rumah kardus misalnya. Atau bahkan di jalanan.

Setiap rumah tangga punya senyum dan tangisnya masing-masing. Dalam hal ini aku bahagia punya suami yang baik, selalu berusaha membahagiakanku, menerimaku dengan sebaik-baik penerimaan. Namun tak ada hidup yang sempurna, pun dengan ujian dalam rumah tangga kami, yang satu per satu mulai berdatangan.

 

Bersambung…

One thought on “Pintu Surgaku: The Begining

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s